Teknologi resiko masih belum mendapat tanggapan positif dari pihak manajemen puncak. Hal ini seperti diungkapkan dari hasil studi yang dilakukan Chartis Research yang terangkum dalam peringkat RiskTech100.
Menurut laporan tersebut, 57% dari responden percaya bahwa pendekatan perusahaan mereka terhadap enterprise risk management (ERM) hanya bersifat taktis dan reaktif ketika menghadapi persoalan tertentu. Begitupula dengan pentingnya implementasi resiko teknologi ini, yang rupanya masih belum dianggap serius sebab 29% responden menyatakan kurangnya dukungan dari manajemen tingkat atas terhadap konsep ini. Sementara penetapan strategi atau perencanaan manajemen teknologi resiko tidak dilakukan oleh perusahaan mereka, ujar 9% responden.
Meski masih dipandang sebelah mata, namun dukungan terhadap implementasi solusi ini cukup besar. Terlihat dari 66% responden yang menanggapi secara positif mengenai peningkatan biaya teknologi risiko sebesar 10 persen atau lebih di tahun 2010.
Dalam pemeringkatan RiskTech100, SAS dinobatkan sebagai yang terunggul versi Chartis Reasearch atas kehandalannya dalam manajemen resiko teknologi. Sebab ternyata layanan perangkat lunak dan business analytics SAS berhasil unggul dalam dari metodologi yang diterapkan Chartis. Dengan standar penilaian berdasarkan evaluasi fungsionalitas, teknologi utama, kapabilitas perusahaan, kepuasan pelanggan, kehadiran di pasar dan inovasi, SAS berhasil meduduki posisi utama, dari tahun sebelumnya yang hanya di posisi ke-6. SAS berhasil menyalip SunGard, Oracle, Algorithmics, risk Metric, dan Thompson Reuters yang tahun sebelumnya berturut-turut merupakan 5 besar.
"Selain itu, survei terhadap pengguna tingkat akhir telah membuktikan bahwa SAS mengalami kemajuan dalam rating kepuasan pelanggan selama 12 bulan terakhir," jelas Peyman Mestchian, Managing Partner di Chartis Research.
Berbagai teknologi resiko yang dimaksud disini adalah solusi teknologi untuk memanajemen resiko kredit, resiko operaasional dan GRC, resiko pasar, resiko ALM dan likuiditas, resikon kejahatan finansial, resiko asuransi, ketentuan peraturan termasuk Basel II dan Solvency II.
Eka Santhika





