Banyak dari pembangunan aplikasi manajemen bisnis saat ini dijalankan secara tradisional dengan menginstal software berlisensi. Namun dengan implementasi yang baru, software-as-service (SaaS) meraih perluasan adopsi.
Menurut laporan lembaga riset In-Stat, selama lebih dari 12 bulan ke depan, beberapa perusahaan di Amerika Serikat menginisialkan akan mengimplementasikan aplikasi manajemen bisnis seperti CRM (Customer Relationship Management), ERP (enterprise resource planning), dll. Seiring dengan implementasi ini, solusi SaaS akan mendekati persentase jumlah perusahaan yang men-deploy lisensi tradisional di pasar tersebut.
Selain itu, seiring dengan ukuran permintaan untuk aplikasi manajemen bisnis (CRM, ERP, dll) yang disampaikan dalam bentuk layanan, In-Stat melihat bahwa permintaan akan Microsoft Office juga meningkat. Imbasnya, produktivitas aplikasi juga akan disampaikan dalam bentuk SaaS tersebut.
Sementara itu, saat kantor ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan dasar computing, produktivitas aplikasi kantor juga semakin mengarah pada bentuk services (layanan). Hal yang sama juga terjadi pada perusahaan-perusahaan besar.
Hingga saat ini, sekitar 15% dari perusahaan dengan lebih dari 100 karyawan yang menggunakan manajemen bisnis tradisional menginstal aplikasi perkantoran yang diindikasikan oleh In-Stat direncanakan untuk mengarah pada implementasi model SaaS.
Sementara itu, riset In-Stat lainnya menyebutkan bahwa aksesibilitas untuk aplikasi yang dapat dikerjakan dalam jarak jauh (remote) atau secara mobile memberikan keuntungan yang sangat penting kepada pengguna SaaS. Di lain pihak, penghalang utama dalam adopsi SaaS adalah masalah keamanan untuk perusahaan besar dan kurangnya keuntungan TCO bagi perusahaan kecil.
Widia Yurnalis





