Menurut Bernaridho Hutabarat, Director PT Bisnis Tekno Ultima, operating system akan unik bila user friendly, murah, mudah diingat, dan tak mengharuskan orang menjadi nerd untuk ahli. "OS yang dibuat bisa dijual karena open source software bukan berarti gratis," ujar Ridho.
Lebih lanjut ia menyatakan, bisnis re-write DBMS/web client/ web srv bisa menjadi bisnis tidak langsung. Dengan demikian, bisnis ini akan memberikan pekerjaan baru di Indonesia.
Terdapat harapan yang realistis dari membuat translator. Bahasa pemrograman Nusa dan translator seperti yang dikreasikan Bernaridho memang bukan solusi semua jenis pemrograman. Namun, translator diwujudkan dengan outsource pembuatan translator ke luar negeri di mana mereka diwajibkan memberikan source code. Setelah itu, source code yang diberikan bisa dipelajari.
Sebagai contoh, di Jepang, tidak semua engineer hebat di negeri Sakura itu fasih berbahasa Jepang. Ada bisnis translasi di sana. Dengan demikian, mereka tidak harus menyerah total dengan "tekanan internasional" berbahasa Inggris.
Translator dan bahasa pemrograman adalah pusat bisnis dan teknologi software. Teknologi kunci dari software ini kemudian menjadi sesuatu yang harus dikuasai untuk mengejar ketertinggalan dalam teknologi software. Ridho menambahkan, banyak bisnis bisa dibuat dan dipertahankan dari penguasaan teknologi tersebut.
Sementara itu, Engkos Koeswara, Asisten Deputi Pengembangan TI Kementerian Ristek, harus ada lembaga untuk mengurus realisasi bahasa pemrograman. "Harus ada jalan keluar, jangan wacana saja," ujar Engkos dalam diskusi mengenai translator program komputer.
Widia Yurnalis





