SingaporeSDA AsiaIndiaSDA India

  • Kamis, 21 Agustus 2008, 19:42
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
          Vol.24/2008
      

Write for Us!

Interview
Perlu Integrasi Bisnis dan TI

Dalam beberapa tahun belakangan, data mendorong organisasi meningkatkan batasan tradisional mengenai sistem development software. Perusahaan pun semakin membutuhkan sebuah solusi yang dapat mengintegrasikan antara kebutuhan bisnis dan TI.

Business Rule Management System (BRMS) merupakan sistem yang memungkinkan enterprise untuk mengeksternalisasikan aturan operasional dan memungkinkan pengguna mengimplementasikan regulasi, kebijakan, dan strategi secara cepat dan langsung, tentunya dengan biaya dan waktu yang lebih sedikit. SDA Asia Magazine berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Foo Jong Tong, General Manager ILOG Asia Pacifik. Berikut kutipan wawancaranya.

SDA Asia Magazine (SDA): Dapatkah Anda menjelaskan lebih lanjut tentang konsep sistem business rule management (BRMS) dan apa yang membuat sistem ini tumbuh?
Foo Joo Tong (FJT):
Sistem Business Rule Management (BRMS) adalah perangkat yang merepresentasikan penggunaan kebijakan manajemen yang dipadukan dengan pembangunan software untuk mengkreasikan sistem yang variatif, sehingga kebijakan bisnis dapat diekstrak keluar dari kode software. Kebijakan yang dimaksud bisa secara langsung di-autorisasikan, dimodifikasi, dan diatur secara independen dari sistem software yang ada. Dengan demikian, sebuah automasi akan disediakan dengan respon yang lebih besar untuk mengubah biaya maintanance aplikasi menjadi lebih rendah.

Sementara itu, metode tradisional dari sebuah aturan bisnis dalam aplikasi sangat kompleks dan lambat. Di lain pihak, bisnis membutuhkan solusi yang mendukung perubahan agar lebih efektif dari metode tradisional. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi seperti BRMS.

BRMS ini mencakup sirkulasi aturan organisasi dan tujuan yang menggarisbawahi administrasi dan peningkatan aturan bisnis organisasi di seluruh enterprise. Penyederhanaan ini merupakan hal yang penting karena proses penemuan dan ekstraksi merupakan kunci yang sulit karena kode alami telah ditulis dalam aplikasi yang asli.

Dalam beberapa tahun belakangan, data mendorong organisasi meningkatkan batasan tradisional mengenai sistem development software. Aturan operasi ini kemudian ditemukan sebagai kompetensi kunci dan compliance atas informasi yang terkunci di dalam sistem software yang variatif. Hal ini mengekspresikan bahasa teknis yang tinggi dan secara umum membuat manajer tidak dapat mengakses subjek yang bertanggung jawab dalam implementasi keputusan. Sebagai hasilnya, mereka tidak mendapatkan keuntungan dari layanan yang harusnya kompetitif. Di lain pihak,perusahaan juga membutuhkan kemampuan untuk berubah secara cepat dan tepat berkaitan dengan kebijakan maupun aturan untuk menumbuhkan bisnis serta meningkatkan efisiensi dan tetap compliant.

BRMS sendiri merupakan software yang berkembang karena membantu enterprise dalam mengambil keputusan. Beberapa kunci pertumbuhan BRMS di antaranya:
- Banyak enterprise berkembang menjadi lebih dinamis dan real time.
- Enterprise membutuhkan strategi bisnis yang lebih kompetitif dan membedakan keputusan bisnisnya dengan pihak lain.
- Enterprise membutuhkan platform untuk mengoperasionalisasi aturan bisnis mereka secara cepat.
- Peningkatan adopsi SOA dan BPM di kalangan TI enterprise.
- Enterprise dituntut untuk lebih transparan dan compliance

SDA: Solusi ILOG berjalan di atas Java, .Net, dan Cobol. Apakah hal ini menjadi salah satu antisipasi ILOG terhadap open source dan proprietary?
FJT: ILOG selalu mengantisipasi agar software kami berjalan di atas platform open source atau pun proprietary. Platform kami netral dan memberikan lebih banyak pilihan kepada customer.

SDA: Tantangan apa yang saat ini dihadapi oleh perusahaan berkaitan dengan BRMS?
F
JT:
Visi final untuk BRMS adalah bermain di skala enterprise. BRMS juga memungkinkan untuk diimplementasikan di usaha skala kecil tanpa pendekatan yang luas. Sementara itu, permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan implementasi BRMS di antaranya berkaitan dengan aturan dari berbagai stakeholder, bagaimana mengimplementasikan aturan, strategi kepemilikan aturan, strategi manajemen aturan, dan perbendaharaan aturan yang ada. Sejak kami mengimplementasikan berbagai sistem, perlu kiranya bagi perusahaan untuk mengimpelementasikan standar dan best practice yang benar. Berita yang baik saat ini adalah terdapat banyak tantangan yang dihadapi oleh enterprise untuk membuktikan implementasi standar dan best practice.

SDA: Bagaimana Anda meyakinkan customer bahwa BRMS merupakan solusi yang tepat dalam mengotomatisasikan keputusan?
FJT: Untuk konsumen yang sangat menghargai sistem informasi, hubungan antara orang TI dan sistem yang ia kendalikan merupakan sistem yang dapat memberikan pengalaman paradoks. Di satu sisi, menggunakan TI memberikan keuntungan signifikan dengan adanya perintah rutin yang otomatis dan peningkatan akses informasi. Tapi di sisi lain, proses otomatisasi ini membutuhkan pembekuan kebijakan bisnis yang diimplementasikan dalam sistem software serta membatasi fleksibilitas bisnis untuk mengadaptasikan operasi bisnis ke kondisi pasar yang dinamis, permintaan individu, atau perubahan lingkungan dan regulasi.

Dengan demikian, kemitraan antara bisnis dan TI penuh dengan kesalahpahaman dan frustrasi. Hal yang menyebabkan kesalahpahaman ini merupakan hal alami dalam rangkaian pekerjaan. Unutk bisnis, sistem TI merepresentasikan suatu hal yang panjang dan membutuhkan proses. Lebih jauh lagi, jika manajer telah menerima sebuah kebijakan, maka dibutuhkan implementasi yang maksimal dan memenuhi kebijakan tersebut. Hal ini tidak mudah karena diperlukan berbagai langkah teknis. Di samping itu, dalam implementasi, sering kali kebijakan tersebut tidak detil dan bergengsi. Banyak dari persyaratan itu "tidak baik" saat diimplementasikan di dalam proses bisnis.

Namun, hal yang lebih penting adalah sekali kebijakan dan persyaratan tersebut telah selesai ditranslasikan, proses untuk perubahan kebijakan membutuhkan konsultasi yang kompleks dan proses perubahan pun berada dalam sebuah translasi. Hal ini membuat perubahan kebijakan menjadi lebih mengikat dalam lingkaran pembangunan software. Di sinilah solusi BRMS membantu enterprise untuk menjembatani kendala-kendala enterprise ke depannya dan membantu orang TI dan bisnis. Dengan BRMS, bisnis dapat mendefinisikan kebijakan bisnisnya dan menyediakan komunikasi yang jelas antara pembuat kebijakan dan solusi sistem aplikasi.

Fenomena lainnya, orang-orang bisnis memiliki kontrol terhadap aturan bisnis dan memungkinkan mereka mengeksekusi sistem yang telah didesain untuk diubah sesuai dengan kebutuhan bisnis. Dalam sistem tradisional, kebijakan bisnis ini menuntut penciptaan kode yang berat dalam aplikasi. Saat perubahan terjadi seluruh perancangan software harus dimulai lagi dari awal. Hal ini tentu saja tidak memungkinkan hanya satu proses yang diubah, tapi keseluruhan rencana dan usaha harus mengikuti persyaratan yang ada.

Oleh karena itu, saat masalah semacam ini muncul, diperlukan solusi yang mengekspresikan kebijakan bisnis dan kemampuan untuk mengubahnya agar memungkinkan teknologi membiarkan kebijakan pebisnis mengatur bisnis dengan menggunakan metode yang telah populer dan selaras dengan pengaturan yang dilakukan oleh ahli-ahli TI di perusahaan.

SDA: Industri mana yang paling banyak mengadopsi BRMS?
FJT: Kami melihat industri perbankan dan asuransi, pemerintahan, dan telekomunikasi merupakan pihak yang sangat siap dalam adopsi BRMS. Hal ini beralasan mengingat BRMS memungkinkan otomatisasi keputusan. Hal ini merepresentasikan kebijakan dan prosedur dalam pendefinisian kebijakan. Indahnya implementasi BRMS ini memungkinkan berbagai sektor untuk melanjutkan proses ke arah yang lebih lanjut, namun juga dapat mengakseleraskan keputusan. Selain itu, hal yang harus dipahami adalah saat ini enterprise membutuhkan ketelitian, konsistensi, kecerdasan, kecepatan, dan pengurangan biaya. Dengan BRMS, kebutuhan-kebutuhan tersebut dijamin akan tercapai.

SDA: ILOG melakukan ekspansi ke China. Apa yang mendorong hal tersebut?
FJT:
China adalah pasar yang tidak dapat dihindari oleh pebisnis. Pertumbuhan bisnis di China dan posisi negara tersebut merupakan kunci yang memotivasi dalam perdagangan dunia. Hal ini mendorong lebih banyak tantangan. Eksploitasi kecil oleh lingkungan TI juga membuat tantangan makin meningkat. Kami percaya bahwa ekspansi ILOG di China merupakan hal yang membutuhkan peningkatan layanan dan software untuk membantu perusahaan-perusahaan di sana agar lebih baik dalam mengatur proses bisnis, apalagi di tengah kompleksitas perubahan ekonomi yang begitu cepat.

SDA: Bagaimana Anda melihat pasar Indonesia berkaitan dengan solusi ILOG?
FJT:
Hal yang jelas saat ini adalah eksploitasi TI yang makin kecil merupakan pilar penting dalam pembangunan sebuah negara. Indonesia adalah negara yang besar dan berkembang. Kami percaya terdapat ruang pertumbuhan besar di industri TI Indonesia. ILOG sendiri memberikan layanan dan software yang memperkuat lebih dari 3.000 perusahaan dan lebih dari 465 vendor software. Kami percaya teknologi ILOG dapat memberikan nilai tambah kepada enterprise TI di Indonesia.

Widia Yurnalis

 

 
Other Article
 
Advertisement Space
 
News
 
Feature