SingaporeSDA AsiaIndiaSDA India

  • Jum\'at, 08 Agustus 2008, 00:57
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
          Vol.24/2008
      

Write for Us!

Interview
Saatnya Dokumen Berstandar

Penggunaan dokumen elektronik mengalami perkembangan pesat. Hal ini dikarenakan berbagai kemudahan dan fitur yang ditawarkan dibandingkan dokumen berbasis kertas. Salah satu keunggulannya adalah data dapat dicari dengan mudah, dokumen dapat dikirim melalui jaringan lebih cepat dan hemat, penyimpanan data lebih tahan lama, dan kemudahan komunikasi untuk kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan.

Dalam perjalanannya, dokumen elektronik memiliki berbagai standar yang dibuat oleh masing-masing vendor dan tidak sepenuhnya dapat berjalan dengan baik ketika dibuka di aplikasi yang menggunakan standar berbeda. Output atau tampilan yang tidak sesuai atau bahkan tidak dapat dibukanya dokumen di aplikasi yang berbeda menjadi kendala ketika vendor pembuat aplikasi tersebut sudah tidak memproduksi atau mendukung standar teknologi tersebut.

Hal ini tentunya membuat berbagai organisasi bahkan pemerintah yang menggunakan standar dokumen tertentu khawatir jika di masa depan dokumen penting yang telah dibuat sudah tidak dapat dibuka atau diakses lagi. Padahal, seharusnya dokumen elektronik mempunyai masa penyimpanan yang lama dan diharapkan dapat dibuka kapan pun dan menggunakan aplikasi pembuka dokumen mana pun. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu standar dokumen untuk menjawab berbagai kekhawatiran tersebut agar dokumen elektronik ke depannya dapat berjalan tanpa bergantung pada vendor atau aplikasi tertentu. Bagaimana implementasi ODF saat ini? Berikut wawancara SDA Asia Magazine dengan Geordie Klueber, Staff Engineer EMEA Technical Office, Sun Microsystems:

SDA Asia Magazine (SDA): Apa yang menjadi kendala utama ketika perusahaan akan mengadopsi ODF?
Geordie Klueber (GK): Salah satu isu utama yang dihadapi perusahaan atau pemerintah adalah bagaimana mereka meraih audiens secara efisien. Contohnya, dalam pasar yang berkembang yang tidak memiliki tingkat adopsi tinggi saat ini, fokus utamanya adalah orang-orang yang mungkin tidak memiliki sumber daya yang memadai, seperti uang dan komputer. Poinnya adalah bagaimana mereka mendapat informasi tersebut. Misalnya saja di Brazil hanya ada segelintir orang yang memiliki komputer, telefon seluler, tetapi hampir semua orang memiliki televisi.

Jadi, mereka mencari cara dan layanan yang bisa dikoneksikan dengan televisi untuk mendapat informasi. Berkaitan dengan ini, salah satu cara menilai ODF sebagai teknologi terbuka adalah solusi bebas dan berbiaya rendah. Di saat yang sama, solusi komersial juga ada. Jadi di sini bisa ditentukan prioritas yang lebih tinggi tanpa harus memiliki banyak sumber daya.
Isu lainnya adalah bagaimana saya bisa mengakses informasi di masa mendatang. Jadi, jika saya memiliki dokumen yang berisi sebuah informasi, poinnya di sini adalah bagaimana saya bisa mendapatkan informasi itu. Dengan menggunakan standar terbuka, saya bisa mengakses informasi dari area lain yang mungkin secara tradisional tidak dapat diakses. Hal ini membuat nilai data meningkat karena memungkinkan data tersebut untuk diakses kapan pun.

SDA: Apakah ini berarti Sun mengkampanyekan kembali ODF?
GK: Kami tidak menciptakan ODF. Kami juga tidak mengkampanyekan kembali ODF. Kami hanya ingin memotivasi untuk meningkatkan adopsi ODF karena kami percaya nilai ODF dan standar. Setiap orang dapat mengimplementasikannya. Sun pun demikian. Dengan demikian, seluruh pasar pun tumbuh karena begitu banyak pemain pasar seperti Sun, IBM, Linux, dan Google. Semuanya adalah pasar dan tiap pihak sukses. Itulah nilai yang membuat kami menawarkan pilihan pada user untuk mengimplementasikan standar yang sama.

SDA: Bagaimana meyakinkan konsumen akan kegunaan ODF?
GK: Saya tidak bisa menjawab secara langsung. Tapi poin menarik adalah tiap organisasi yang berbeda memiliki sumber daya yang berbeda. Dengan demikian, setiap orang harus mengevaluasi masalah apa yang harus dicari solusinya dan melihat keuntungan apa yang bisa diraih dari solusi yang spesifik. Misinya, dengan mengadopsi ODF, organisasi atau perusahaan bisa menggunakan Open Source atau Staroffice atau Googledocs untuk yang tidak memiliki infrastruktur besar. Tapi yang pasti, tiap orang yang menggunakan ODF memiliki potensi untuk didukung.

SDA: Kenapa Indonesia harus mengadopsi ODF sebagai standar?
GK: Ini akan menjadi pretensi baik untuk Indonesia dalam mengadopsi ODF karena ODF merupakan standar terbuka. Tiap orang dapat memberikan kontribusi ide di dalamnya. Selain itu, terdapat banyak vendor yang menggunakan berbagai default dalam format file. Sebagai hasilnya, pemerintah bisa menyatakan, data apa pun bisa dibuka dengan adanya standar. ODF juga memungkinkan pasar untuk menggunakan data dalam sistem yang berbeda. Jadi ke depannya data tetap aman.

SDA: Berapa investasi untuk migrasi ke ODF?
GK: Ini tergantung pada banyaknya isu. Untuk perkantoran misalnya, harus dilakukan evaluasi saat migrasi, bagaimana jika tidak diadakan migrasi ke ODF di masa depan. Itulah pertimbangan-pertimbangannya. Jadi penting untuk mengerti dan membertimbangkan cost dari sebuah aplikasi.

SDA: Tren apa yang berkaitan dengan format dokumen ke depannya?
GK: Pertama, semuanya akan terbuka dan semakin menarik. Akan lebih baik jika orang mengerti standar terbuka dan open source. Kedua, dalam hal adopsi, open source akan berjaya dan meraih popularitas. Standar terbuka juga akan menjadi semakin penting karena tidak hanya berkaitan dengan teknik komputasi, tapi juga pada semua teknologi. Ketiga, untuk format dokumen, masalah interoperabilitas adalah hal yang utama. Jadi, kemampuan untuk melakukan interoperabilitas semakin penting. Selain itu, saat teknologi berlanjut untuk diadopsi di seluruh dunia, terutama di pasar berkembang, kemampuan untuk melakukan interoperabilitas semakin mudah di antara berbagai solusi berbeda.

SDA: Apakah ODF akan diimplementasikan juga di telefon seluler?
GK: Kami sedang merencanakannya. Diprediksikan dalam tahun ini akan direalisasikan untuk diluncurkan. Tidak ada perbedaan antara ODF di mobile phone dan di PC. Standar tetaplah standar.

Widia Yurnalis














 
Other Article
 
Advertisement Space
 
News
 
Feature