SingaporeSDA AsiaIndiaSDA India

  • Selasa, 06 Januari 2009, 10:53
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
          Vol.24/25
      

Write for Us!

Feature
Pendapatan Non-Voice Lampaui Voice

Menurut data terbaru IDC selama triwulan kedua 2008, tingkat pertumbuhan  pendapatan Non-Voice Services melampaui pendapatan Voice Services. Jika dibandingkan dengan kondisi Q2 2007, Non-Voice Services mengalami peningkatan 30,4% sedangkan Voice Services tumbuh 28,7% di triwulan kedua 2008 dibanding Q2 2007. 

Sedangkan untuk tren tingkat pertumbuhan triwulan, Non-Voice Services mengalami peningkatan sebesar 5% dibanding Q1 2008, sedangkan untuk Voice Services tumbuh sekitar 3,4% untuk periode yang sama. Pertumbuhan Non-Voice Services ini didukung oleh gencarnya promosi layanan Non-Voice Services dari pihak operator seluler dan semakin banyaknya operator yang  terjebak dalam "perang tarif" untuk layanan Voice Services.

Sementara untuk total pendapatan Non-Voice Services di Q2 2008, IDC mencatat tingkat pendapatan sekitar Rp 5,1 trilyun atau sekitar 30% dari jumlah total pendapatan operator seluler di Indonesia.

Menurut Ashadi Cahyadi, Senior Analyst Telecommunication Research, IDC Indonesia, sampai saat ini, layanan SMS masih menjadi motor utama untuk Non-Voice Services dengan kontribursi lebih dari 88% di Q2 2008 ini. Sementara layanan MMS cenderung menurun sekitar 8,3% dibanding Q1 2008. 

Di lain pihak, untuk layanan data lainnya, termasuk layanan Value Added Services, seperti musik, video, e-Mail, dan  Data Surfing mengalami peningkatan pendapatan 47,3% di Q2 2008 ini dibanding periode yang sama pada 2007 lalu. "Pertumbuhan yang signifikan ini menunjukkan siklus yang normal. Artinya, dengan tingkat penetrasi mobile yang sudah mencapai 50% di tahun ini, para operator seluler ditantang untuk semakin inovatif dalam memberikan Value Added Services kepada pelanggan untuk mengantisipasi berkurangnya tingkat pendapatan dari Voice Services.

Ke depannya, IDC melihat tren peningkatan Non-Voice Services akan tumbuh signifikan dan didukung oleh kondisi pasar yang semakin matang serta makin meningkatnya CAPEX operator untuk peningkatan infrastuktur berbasis layanan data. Apalagi Indonesia sampai saat ini mencatat total 8 izin penyelenggara mobile operator seluler, yaitu 5 untuk layanan GSM dan 3 untuk layanan CDMA.

Mencermati perkembangan yang terjadi di pasar mobile operator di Indonesia, IDC mencatat  beberapa hal penting. Pertama, sebagian besar pelanggan masih bersifat basic users di mana Voice Services dan SMS tetap menjadi andalan utama. Diperlukan usaha besar mengingat semakin sengitnya "perang tarif"  yang berlangsung. Operator pun dituntut mencari pendapatan alternatif pengganti pendapatan suara. Dalam hal ini, data services menjadi pilihan utama bagi operator. Layanan data ini dapat berupa mobile content, mobile  advertising, mobile remittence, dan value added services lainnya. 

"Dengan kondisi seperti ini, tentunya para operator seluler sudah mengantisipasi dan mempersiapkan strategi yang cocok dengan perkembangan dan tingkah laku pengguna layanan mobile services di Indonesia. Hal yang menjadi pertanyaan utama adalah bagaimana mengkonversi segmen basic users ini menjadi advance users terhadap layanan yang telah diberikan oleh operator bergerak," ujar Ashadi.

Widia Yurnalis

 
Other Feature
 
 
News
 
Article