SingaporeSDA AsiaIndiaSDA India

  • Sabtu, 05 Juli 2008, 21:50
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
          Vol.24/2008
      

Write for Us!

Feature
Melirik Pembajakan di Indonesia

Kerugian industri akibat pembajakan piranti lunak di Indonesia (software) naik hingga mencapai USD 411 juta di tahun 2007. Di lain pihak, pembajakan terhadap piranti lunak pada personal computers (PC) di Thailand turun dua angka dari 85% di tahun 2006 menjadi 84% di tahun 2007.

Penurunan angka pembajakan ini memang sejalan dengan kecenderungan global yang memperlihatkan bahwa secara universal tingkat pembajakan menurun di sejumlah negara.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Business Software Alliance (BSA), Indonesia telah mengambil langkah yang tepat, walaupun masih banyak yang perlu dilakukan berkaitan dengan penegakan hukum melawan pembajakan software.

Menurut Donny A. Sheyoputra, Perwakilan BSA Indonesia, dengan mengurangi lebih banyak pembajakan terhadap piranti lunak, maka akan memberikan hasil yang nyata terhadap konsumen lokal. Selain itu, seperti kampanye BSA sebelum-sebelumnya, penurunan tingkat pembajakan software juga menguntungkan perusahaan lokal pembuat piranti lunak, usaha kecil, serta masyarakat pada umumnya. Alhasil, jumlah tenaga kerja yang dapat ditampung juga mengalami kenaikan signifikan.

Tentunya, menurut BSA, penurunan tingkat pembajakan ini juga memperlihatkan komitmen Kepolisian RI, Direktur Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (DGIPR), dan pihak-pihak terkait lainnya berkaitan dengan promosi Hak atas Kekayaan Intelektual.

Sementara itu, sebuah studi yang dilakukan IDC pada tahun ini memperlihatkan bahwa berkurangnya pembajakan terhadap piranti lunak PC sebesar sepuluh angka persentase mampu menciptakan 2.200 lapangan kerja baru. Selain itu, penurunan sepuluh persen ini juga membuat nilai pertumbuhan ekonomi mencapai USD 1,7 trilyun dan pendapatan terhadap pajak mencapai USD 88 juta.

"Sangat jelas bahwa berkurangnya pembajakan piranti lunak di Indonesia akan memicu keuntungan secara ekonomis untuk negara," tambah Sheyoputra. Ia mengingatkan pentingnya produktivitas dan keamanan yang dapat diperoleh dengan penggunaan piranti lunak asli.

Hingga saat ini, di antara 108 negara yang disurvei oleh BSA, pembajakan terhadap piranti lunak PC menurun di 67 negara. Hanya 8 negara yang mengalami kenaikan angka pembajakan. Hal ini diakibatkan oleh pasar global PC yang berkembang pesat di negara-negara dengan tingkat pembajakan tinggi dan keseluruhan tingkat pembajakan di dunia yang naik hingga tiga angka menjadi 38% di tahun 2007.

Di Asia, negara dengan tingkat pembajakan tertinggi adalah Bangladesh (92%), China (82%), Indonesia (84%), Pakistan (84%), Sri Lanka (90%) dan Vietnam (85%). Sedangkan negara dengan tingkat pembajakan yang cukup rendah antara lain Australia (28%), Jepang (23%) dan Selandia Baru (22%).

Studi ini menunjukkan bahwa usaha-usaha pemerintah dan industri anti-pembajakan berhasil menurunkan tingkat pembajakan piranti lunak di beberap negara. Kendati demikian, menurut John Gantz, kepala riset IDC, kecepatan pertumbuhan PC di pasar dengan tingkat pembajakan tinggi membuat kenaikan tingkat pembajakan secara global. "Industri dan pemerintah harus bahu-membahu memfokuskan usaha mereka dalam memerangi pembajakan dalam perekonomian yang sedang berkembang ini," ujar Gantz.

Berikut angka pembajakan software secara global hingga 2007:
1. Australia (28%) 
2. Bangladesh (92%)  
3. Hong Kong (51%) 
4. India (69%) 
5. Indonesia (84%) 
6. Jepang (23%) 
7. Malaysia (59%) 
8. New Zealand (22%) 
9. Pakistan (84%) 
10. Filipina (69%) 
11. Singapura (37%) 
12. Korea Selatan (43%) 
13. Sri Lanka (90%) 
14. Taiwan (40%) 
15. Thailand (78%) 
16. Vietnam (85%) 

Sementara itu, masih berkaitan dengan pembajakan software, raksasa software terbesar di dunia, Microsoft, mencoba melakukan terobosan di Indonesia untuk meminimalisasi pembajakan. Perusahaan piranti lunak ini mengemasnya dengan berbagai program. Terbukti, ketika Bill Gates mengunjungi Indonesia beberapa waktu lalu, Microsoft mencoba menawarkan bantuan 1000 software untuk sektor pendidikan, asalkan pemerintah membeli pembelian perangkat komputer USD200. Berhasilkah trik ini? Mari kita tunggu hasilnya.

Widia Yurnalis

 
Other Feature
 
Advertisement Space
 
News
 
Article
M.Tech! Your Preferred i-Security Partner