SingaporeSDA AsiaIndiaSDA India

  • Sabtu, 30 Agustus 2008, 15:00
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
          Vol.24/2008
      

Write for Us!

Feature
ASEAN Memikat untuk Peluang Investasi ICT

Laporan terbaru IDC mengenai pasar kolektif enam negara ASEAN mengungkapkan, pengeluaran TI di kawasan ini lebih besar 43% dibandingkan India. Jumlah ini membuat ASEAN semakin menarik untuk peluang investasi para vendor Information and Communications Technology (ICT) multinasional.

Menurut analis IDC, total pengeluaran untuk TI di enam negara ASEAN, yaitu Malysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan Filipina jumlahnya sebesar USD 25,1 juta. Sedangkan, pengeluaran untuk TI di India sebesar USD 17,5 juta.

"Sudah menjadi rahasia umum kalau India memiliki potensi investasi TI yang besar. Tapi, mencermati data IDC tampak bahwa konsumsi TI domestik ASEAN secara total lebih besar," ujar Manajer Direktur IDC, Selinna Chin. Menurutnya, ASEAN memiliki daya tarik yang lebih baik untuk para pemain TI global.

Sementara itu, menurut data Bank Dunia, pada 2006, GDP pasar enam negara ASEAN mencapai USD 1,03 triliun, sementara India USD 906,27 juta. Selain itu, pasar TI ASEAN akan tumbuh lebih besar pada 2011. Setelah itu, diperkirakan pengeluaran TI domestik India akan menyusul, terutama karena perkiraan pertumbuhan pasar TI India tahun depan mencapai 20%, sementara ASEAN 6%.

Di samping itu, faktor utama tingginya peluang pertumbuhan TI India adalah jumlah perusahaan TI global yang berinvestasi di India cukup signifikan untuk ekspor TI. Selain itu, banyak perusahaan lokal TI di India sendiri sudah bersifat global. "Agar tetap kompetitif dan atraktif bagi vendor TI multinasional setelah 2011, bisnis domestik ASEAN dan pemerintah setempat harus lebih agresif dalam penyesuaian TI," tambah Selinna.

IDC kembali menyatakan China tetap memiliki daya tarik TI terbesar dengan pengeluaran TI domestik sebesar USD 57,3 juta di kawasan Asia-Pasifik, tidak termasuk Jepang (APEJ). Jumlah ini dua kali lebih besar dari ukuran pengeluaran TI ASEAN dan merepresentasikan 36% dari total pengeluaran TI APEJ pada 2007. Pasar TI China diramalkan tumbuh 12% pada 2008.

Berdasarkan data IDC, suprimasi Amerika Serikat (AS) dan isu ekonomi lainnya mengakibatkan dampak langsung bagi pertumbuhan pasar TI ASEAN. Skenario terburuk yang dibuat IDC adalah isu memburuknya ekonomi AS akan menyebabkan "resesi teknis" di AS. Hal ini diartikan sebagai kelanjutan kuartir negatif pertumbuhan GDP, di mana konsumsi AS akan kian melemah dan merugikan pasar TI di ASEAN.

"Ritme pertumbuhan pasar TI di regional ASEAN bisa turun sekitar 2% pada 2008. Hal ini ekuivalen dengan potensi kehilangan peluang pasar senilai USD 680, dan USD 1 juta pada 2009," ungkap Selinna. Ia juga mengungkapkan, semakin besar perdagangan suatu negara bergantung pada AS, semakin besar dampak negatifnya, walaupun untuk beberapa kasus seperti China, permintaan domestik yang signifikan akan mengganti beberapa kerugian. 

Sementara itu, negara-negara Asia berikut ini diperingkatkan berdasarkan bisnis ekspor ke AS, yaitu:
1. Jepang
2. Vietnam
3. Malaysia
4. Filipina
5. India
6. Taiwan
7. Hong Kong
8. Thailand
9. Korea
10. Selandia Baru
11. Indonesia
12. Singapura
13. Australia

Merujuk pada IDC, menopang dampak penurunan pasar TI Asia merupakan suatu tantangan berkaitan dengan kepercayaan terhadap ekspor Asia ke Amerika Serikat. Sementara itu, kebijakan kredit akan semakin ketat karena semakin beresikonya bank lokal.

"Bagaimanapun, pada kondisi paling rendah, perusahaan terkemuka cenderung berinvestasi untuk siklus pertumbuhan berikutnya. Perusahaan yang ketinggalan prediksi ke depan, akan tertinggal sampai enam bulan ke depan," tambah Selinna.

Redaksi SDA Asia Magazine

 
Other Feature
 
Advertisement Space
 
News
 
Article