Para pemilik ponsel tersebut membuat kode antar teman, tidak mengangkat panggilan, dan mendengarkan saja jika ponsel berdering. Satu kali deringan berarti "telepon balik", dua kali deringan berarti "jemput".
Di Afrika, Asia, dan Amerika Latin telah dilakukan eksperimen mengenai hal ini. Lebih dari ratusan juta orang dengan ponsel populer terkoneksi dalam jaringan komunikasi modern. Ekonomi negara-negara miskin mendapatkan keuntungan dari teknologi ini. Era baru pengguna telepon tidak hanya mengadopsi contoh dari negara industri. Mereka juga memadankan teknik dengan budaya komunikasi baru.
Sementara itu, pengembangan ponsel di Afrika memicu tren "Beeping". Di Rwanda, banyak yang memahami permintaan ditelepon kembali dengan bunyi deringan satu kali. Trik lainnya adalah melakukan panggilan kosong atau tanpa biaya, sementara di Afrika hal ini telah menjadi fenomena nyata yang cukup meluas. Di satu sisi hal ini memusingkan penyedia jaringan, di lain pihak tercipta aturan beeping.
Menurut statistika PBB, jumlah ponsel di Afrika mencapai 25,3 juta di tahun 2001 dan naik menjadi 192,5 juta tahun lalu. Mayoritas user juga memperoleh telepon dari pasar bebas, dan menggunakannya dengan kontrak tanpa biaya dasar dan tagihan minimal. Sementara sepertiga penelepon meminta dihubungi kembali tanpa dikenai biaya.
Memang sebagian besar pengguna ponsel di Afrika sering kali tidak memiliki uang untuk mengisi pulsa. Sementara "beeping" atau "flashing" juga melanda Rwanda. Istilah ini di Sudan dikenal dengan istilah "missed call", di Ethiopia "miskin", dan di negara-negara bekas jajahan Perancis dikenal dengan "Bipage".
Menurut data, di Afrika antara 20 hingga 30 % total penelepon melancarkan jurus "beeping". Menurut sosiolog, Jonathan Donner, dalam sebuah artikel yang selanjutnya dipublikasikan dalam "Journal of Computer-Mediated Communication" ia menerapkan aturan kerja tertentu yang disebutnya "The Rules of Beeping" dalam penelitian ini. Usaha pertamanya berbunyi, orang kaya membayar, sementara orang miskin "beeping". Hal serupa berlaku untuk "beeping" teman atau ketika seseorang menginginkan pertolongan. Selain itu, orang tidak perlu lagi mengebel berturut-turut untuk meminta ditelepon balik.
Komunikasi melalui rangkaian ring tone
Beeping dapat digunakan untuk hal selain menandai permintaan ditelepon balik. Donner dan studi lain bernama "Africa Calling" menggambarkan morse dengan bantuan ring tone. Komunikasi menggunakan ponsel dengan cara ini dalam banyak kasus bagi pengguna sama sekali tidak menelan biaya. Kerabat atau pasangan menyepakati kode tertentu, seperti dua kali deringan yang berarti "jemput saya".
Penyedia jaringan Afrika tentu saja tidak menyukai komunikasi morse. Mereka berusaha menghentikan kebiasaan "beeping" konsumen dengan menawarkan beberapa layanan serupa "beeping". Pada Vodafone-Kongo, layanan tersebut bernama "Rappelez-moi SVP" ("tolong hubungi aku") dan biayanya hanya 0,75 sen, hanya seperlima tarif SMS.
Selain itu, penyedia Safaricom, yang beroperasi di beberapa negara akan menyediakan fungsi "Flashback 130". Layanan ini 5 kali dalam sebulan memberikan gratisan dibanding "beeping" biasa yang menyediakan nilai lebih tinggi. Dengan layanan ini, mitra lawan bicara yang diinginkan akan mendapatkan SMS berisi permintaan untuk dihubungi.
Layanan serupa di Indonesia juga diadopsi Telkomsel untuk pengguna Simpati, yang dapat memanfaatkan layanan Telkomsel Call Me 808. Layanan ini ditawarkan cuma-cuma. Penyedia juga memberikan laporan kepada pengirim dan SMS berisi permintaan untuk dihubungi kepada lawannya.
Sascha Koesch / Fee Magdanz / Robert Stadler





