• Kamis, 18 Maret 2010, 05:44
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
      

Write for Us!

Article
Tindakan Online Berbahaya

Dari hasil studi diketahui, walaupun 57 persen dari pengguna situs jaringan sosial mengakui bahwa mereka mencemaskan kemungkinan menjadi korban kejahatan cyber, mereka tetap memberikan informasi yang dapat menempatkan mereka dalam risiko. Contohnya, 74 persen dari pengguna telah memberikan informasi pribadi dalam berbagai macam bentuk, seperti alamat e-Mail, nama, dan tanggal lahir mereka.

Sementara itu, 83 persen dari pengguna telah mentransfer data yang tidak diketahui dari profil pengguna lain. Hal ini membuat PC mereka menjadi lebih rentan terhadap serangan. Sekitar 51 persen dari orang tua yang mengetahui jaringan sosial anak-anak mereka pun tidak membatasi profil anak-anak mereka, sehingga hanya teman saja yang dapat mengaksesnya. Profil ini pun diprediksi lebih rentan akan bahaya.

Dari hasil survei itu juga diketahui, 36 persen dari orang tua yang telah disurvei menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak memonitor anak-anaknya saat menggunakan situs jaringan sosial.

Berbeda dengan persepsi umum bahwa menikmati jaringan sosial adalah aktivitas yang dinikmati secara eksklusif oleh remaja, studi jaringan sosial CA/NCSA menunjukkan, sebagian besar orang dewasa (48 persen) berusia 18 tahun ke atas, menggunakan situs-situs tersebut. Sekitar 53 persen dari orang dewasa yang menggunakan situs jaringan sosial berusia di atas 35 tahun. Meningkatnya jumlah orang dewasa yang menggunakan situs-situs tersebut adalah indikasi kenaikan popularitas dan juga potensi risiko keamanan situs jaringan sosial. “Walaupun komunitas umum berpikir bahwa sebagian besar pengguna situs jaringan sosial adalah remaja, survei CA/NCSA menunjukkan, popularitas situs-situs tersebut telah menjangkau lebih jauh dari hanya young early adopters dan mencapai segmen populasi lainnya,” ujar Ron Teixeira, Executive Director NCSA. Lebih lanjut ia menyatakan, pengguna yang sering mengunjungi situs-situs tersebut seharusnya menyadari bahwa data yang mereka gunakan bersama dapat membuat mereka lebih rentan atas serangan online. Memberikan nomor social security, tanggal lahir, dan nama adalah amunisi bagi para kriminal untuk membajak data keuangan dan mendapatkan informasi pribadi pengguna.

Usut punya usut, ternyata pengguna situs jaringan sosial tidak hanya memberikan informasi yang mempunyai potensi berbahaya. Para pengguna juga melakukan tindakan yang penuh risiko seperti download file yang tidak diketahui dan menjawab e-Mail dan pesan singkat yang tak diminta. Semua aksi tersebut dapat mengakibatkan pencurian identitas, spyware komputer, virus, dan risiko-risiko lainya. Sementara itu, 83 persen dari pengguna jaringan sosial telah men-download isi profil pengguna lain. Hal yang tak kalah menarik, 31 persen orang dewasa yang menggunakan situs-situs tersebut telah merespon e-Mail phishy atau pesan instan.

Orang dewasa yang menggunakan situs jaringan sosial bisa menempatkan tidak hanya diri mereka dalam risiko, tetapi juga bisnis dan tempat kerjanya dalam posisi bahaya. Dari orang yang mempunyi akses pada komputer di tempat kerja, diketahui 46 persen membuka situs-situs tersebut dan melakukan tindakan yang penuh risiko. Hal seperti ini justru membuat tempat kerja mereka rentan terserang ancaman keamanan online. “Dengan meningkatnya popularitas penggunaan situs jaringan sosial, masyarakat harus mengambil langkah-langkah untuk melindungi data mereka di rumah dan kantor,” kata David Luft, Senior Vice President Product Development CA. Menurut David, selain memasang dan meng-update firewall, piranti lunak anti-spyware dan anti-virus, para pengguna juga harus waspada akan tindakan-tindakan yang dapat membuat mereka mudah diserang hackers, pencuri ,dan penjahat online.

Dari hasil survei juga terlihat, banyak orang dewasa mengambil tindakan pencegahan atas anak-anak mereka. Dari orang tua yang mengetahui bahwa anak mereka yang berumur di bawah 17 tahun yang menggunakan situs jaringan sosial, 64 persen memonitor profil anak mereka dan 49 persen hanya membolehkan profil anak mereka dilihat oleh teman-temannya. Kebanyakan orang dewasa telah mendiskusikan tindakan keamanan dengan anak-anak mereka, 94 persen telah berbicara mengenai cara menghindari penjahat, 72 persen telah berbicara mengenai cara menghindari piranti lunak yang berbahaya, dan 64 persen lainnya telah berdiskusi mengenai cara menghindari penipu yang mencoba mencuri uang.  

Berdasarkan rekomendasi dari NCSA dan National Consumers League, terdapat beberapa cara untuk tetap aman selagi mengunjungi situs jaringan sosial. Pertama, lindungi data finansial dan informasi sensitif lainnya. Jangan pernah menyediakan atau memasang nomor social security, tanggal lahir, alamat, nomor telefon, nomor bank atau kartu kredit, atau informasi pribadi lainnya yang dapat digunakan oleh para kriminal.

Kedua, akan lebih baik untuk membayangkan situs jaringan sosial seperti tempat iklan di dunia maya. Logikanya, polisi, personal universitas, penyedia lapangan kerja, penipu, tetangga, dan pihak lainnya dapat melihat informasi apa saja yang dipasang.

Ketiga, berpikir dua kali sebelum membuka link atau download attachment dari e-Mail, karena dapat mengandung virus atau spyware yang dapat merusak komputer dan mencuri informasi pribadi, termasuk kata sandi online dan nomor account.

Keempat, lindungi komputer pribadi. Gunakan filter spam, piranti lunak anti-virus, anti spyware, dan firewall. Para penjahat sering mengamati situs jaringan sosial untuk menemukan korban yang dapat dikenakan penipuan, seperti undian palsu, peluang kerja palsu, dan investasi gadungan.

 
Other Article
 
 
News
 
Feature